SUTAN MINANG -Bagi yang ingin datang ke sumbar atau masyarakat Minangkabau yang belum tahu event wisata bulan Mei 2017, Berikut ada beberapa Event, Sutan Minang ambil dari situs Wonderfulminangkabau.com dengan ulasan dari berbgai sumber.
1. Berkaul di Kabupaten Sijinjung pada 7 Mei
Berkaul bisa dikenal dengan sebutan "'Bakaua". Pada umumnya setiap nagari di Kabupaten Sijunjung hingga saat ini masih tetap
melaksanakannya dan biasanya bakaua adat ini dilaksanakan setelah selesai masa
panen dan hendak menjelang musim tanam ditahun berikutnya.
Biasanya
pelaksanaan bakaua adat ini diawali terlebih dahulu dengan musyawarah ditingkat
nagari, yang dihadiri seluruh petinggi-petinggi nagari, mulai dari ninik mamak,
alim ulama, cerdik pandai serta walinagari dan lembaga-lembaga yang ada di
nagari. Setelah didapat kata sepakat, bulek alah sagolek, picak alah salayang,
maka ditentukanlah hari pelaksanaan bakaua, termasuk berbagai jenis hiburan
yang akan ditampilkan pada malam bajago-jago guna menyemarakkan alek anak
nagari tersebut. Misalnya penampilan kesenian randai, selawat dulang, saluang
dendang, rabab maupun yang lainnya. (info dari Barajamanulih.blogspot.co.id)
2. Festival Danau Maninjau di Kabupaten Agam Pada 14 Mei
Festival ini digelar oleh masyarakat dan pemerintah Agam sebagai sebuah langkah untuk kembali menggali dan mempromosikan wisata di Kabupaten Agam, dan festival ini digelar setiap tahunnya.
Dikutip dari sumbarsatu.com Festival Danau Maninjau biasanya menampilkan Lomba Dayuang atau Perahu, Lomba Tambua Tansa dilaksanakan, Lomba Saluang Tradisional, Lomba Talempong Agung, Pameran Usaha Kecil Menengah (UKM) Kreatif.
3. Pacu Jawi di Kabupaten Tanah Datar pada 13 sampai 27 Mei
Pacu jawi merupakan budaya asli Kabupaten Tanah Datar yang
sudah turun temurun. Tak pernah berhenti, event tahunan yang ditaja oleh
masyarakat setempat ini menjadi sebuah kebanggan warga Minangkabau yang banyak
ditonton oleh turis pada setiap gelarannya, baik itu dari dalam Negeri ataupun
Mancanegara.
Saat kegiatan betapa penuh perjuangan para Joki yang
sedang menunggangi Sapi-sapi (Jawi) mereka. Berjibaku di tengah-tengah lumpur
tak membuat sang Joki merasa kewalahan.
Dalam aturan permainan pacu jawi, sang Joki harus siap
dengan dua ekor sapi ternak mereka. Sapi-sapi tersebut dipasangi satu bajak
sekaligus tempat berdiri atau menjadi posisi kemudi sang Joki.
4. Sahec ‘Semalam di Soedoet Kampoeng di Goedang Ransoem, Sawalunto Minggu ketiga Mei
Event ini ditaja oleh Sawahlunto Heritage Community (SAHEC) di Halaman Museum Goedang Ransoem Kota Sawahlunto . Acara ini bertujuan
agar masyarakat Sawahlunto khususnya untuk dapat mengetahui, menjaga,
dan melestarikan warisan dan budaya yang pernah ada di Kota Sawahlunto
dulu demi terwujudnya tujuan kita bersama yaitu menjadikan Kota
Sawahlunto sebagai Kota Tua Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO dan mampu
menarik wisatawan berkunjung ke Kota Sawahlunto.
http://jinderapura.blogspot.co.id
Adapun bentuk kegiatan
pada acara ini antara lain, belajar menganyam janur (ketupat, kembang
mayang, dll), permainan lomba anak remaja tempo doeloe (congklak,
bakiak, dll) dan juga ada penampilan kesenian randai, orkes keroncong
serta permainan anak nagari.
Disini juga dapat kita temukan dan nikmati
makanan khas tempo doeloe seperti getuk, tiwul, sawut, kue talam,
gembloeng, dan wedang jahe. So...buat yang ingin berkunjung dan bermalam
minggu di soedoet kampoeng jangan lupa untuk pakai busana tempoe
doeloe. Don'y Miss It... Salam Pesona Indonesia. (sumber sawahluntotourism.com)
5. Festival Gandoriah di Kota pariaman pada 25-28 Mei
Biasanya Sembilan perlombaan dalam event ini. Lomba beruk memetik kelapa, lomba layang-layang
kreasi, lomba memasak bermacam jenis sala piaman, lomba foto objek
wisata, lomba kuliner gulai kapalo ikan, lomba surving, lagu minang,
lomba video pesona wisata Pariaman dan Gandoriah Music Fiesta.
https://m.tempo.co
Pemerintah Kota pariaman konsisten dengan visi misinya yaitu
menjadikan Kota Pariaman daerah tujuan wisata pantai dan bahari.
Sebagai upaya itu beragam festival menjadi kalender wisata, sejak dari
Festival Pesona Gandoriah, Tabuik, dan Triathlon telah diagendakan
sebagai iven nasional oleh Kementerian Pariwisata. (harianhaluan.com)
SUTAN MINANG - Pacu jawi merupakan budaya asli Kabupaten Tanah Datar yang
sudah turun temurun. Tak pernah berhenti, event tahunan yang ditaja oleh
masyarakat setempat ini menjadi sebuah kebanggan warga Minangkabau yang banyak
ditonton oleh turis pada setiap gelarannya, baik itu dari dalam Negeri ataupun
Mancanegara.
Dalam Video yang Sutan Minang tampilkan berikut, sudah dapat
menjadi bukti betapa meriah dan serunya kegiatan yang sudah tercantum dalam
kelender kegiatan tahunan Dinas Pariwisata Kabupaten Tanah datar ini.
Dapat kita lihat, betapa penuh perjuangan para Joki yang
sedang menunggangi Sapi-sapi (Jawi) mereka. Berjibaku di tengah-tengah lumpur
tak membuat sang Joki merasa kewalahan.
Dalam aturan permainan pacu jawi, sang Joki harus siap
dengan dua ekor sapi ternak mereka. Sapi-sapi tersebut dipasangi satu bajak
sekaligus tempat berdiri atau menjadi posisi kemudi sang Joki.
Mungkin sudah bisa dibayangkan betapa uniknya kegiatan Pacu
Jawi ini. Pasti ada sebagian pembaca yang kini sedang mengalami panasaran berat dan
ingin meyaksikan secara langsung penyelenggaraan event Budaya yang geliatnya
sudah mencapai Dunia Internasional.
Ada empat kecamatan
penyelenggara pacu jawi di Tanah Datar, yakni Kecamatan V Kaum,
Pariangan, Sungai Tarab,dan Rambatan. Menurut marwan, pacu jawi terbesar
dilaksanakan pada 10, 17, 24 dan 31 agustus 2013. Kegiatan ini menjadi
ajang bagi pemilik sapi untuk menguji kemampuan berlari hewan peliharaan
mereka. Sekitar 800 ekor sapi akan berpacu di sawah dalam acara selama
empat hari Sabtu dalam bulan Agustus itu.
“kalau sapi bisa berlari lurus, harganya bisa melonjak dua kali lipat
atau bahkan lebih dari harga normal”.
Pacu jawi digelar turun temurun. Sebelum terangkat menjadi kegiatan
wisata, pacu jawi adalah kegiatan lokal masyarakat sebelum musim tanam
dilakukan. Di tanah datar, sekitar 75 persen warganya adalah petani.
Hari Sabtu lalu, kegiatan pacu jawi untuk bulan Maret-April digelar di
Jorong Tigo Batur. Kegiatan diadakan selama lima kali hari Sabtu, pukul
12.00-15.00. lokasi pacu jawi juga dijadikan arena pacu jawi akbar ada
Agustus nanti. “Sekitar 400 sapi yang ikut kegiatan kali ini”, ujar
Ketua Persatuan Olahraga Pacu jawi (Porwi) Tanah Datar Fahmi.
Sapi didatangkan dari sejumlah nagari di Tanah Datar, jumlah sapi
semakin bertmbah setelah pacu jawi banyak digelar di Tanah Datar
beberapa tahun terakhir. Tiga tahun lalu, ada sekitar 80 sapi ikut serta
dalam sekali kegiatan pacu jawi. Selain itu ada sekitar 60 joki yang
biasa mengendalikan laju sapi.
Tak mudah sebenarnya mengendalikan laju sapi. Joki hanya berdiri di
tangkai bajak sambil memegang ekor sapi agar sapi mau berlari. Bertempur
dalam area sawah penuh lumpur. Kadang sapi berlari kearah yang tidak
seharusnya. Belum lagi yang harus dikendalikan adalah dua ekor sapi.
Cipratan lumpur mengenai seluruh tubuh joki bahkan mengenai mata. Dan
itu bisa mengganggu penglihatan para joki. Selengkapnya :
http://www.kompasiana.com/akbarisation/pacu-jawi-tanah-datar-perayaan-tradisional-atraksi-wisata_552951bd6ea8341a5b8b4575
Dikutip dari Antarasumbar.com, dapat semakin memperjelaskan geliat Pacu Jawi.
Penonton dalam event ini tak memandang usia, mulai dari laki-laki dan wanita. Bahkan, acara ini banyak diminati berbagai kalangan, baik itu Orang tua, dewasa, remaja, anak-anak, balita hingga
bayi yang masih dalam gendonga.
Asal penonton pun beragam, ada warga lokal Tanah Datar, Sumatera Barat
dan wilayah lainnya di Sumatera, bahkan Indonesia yang jadi wisatawan. Di
antara mereka juga nampak orang berkulit putih dan berhidung mancung
yang sengaja datang sebagai dari mancanegara.
Para wisatawan dalam dan luar negeri itu berkunjung sebagai bagian
trip paket wisata mereka di Ranahminang yang telah disusun pihak tour
dan travelnya.
Di tengah gemuruh penonton
juga nampak sejumlah fotografer lokal dan mancanegara, juga beberapa
kameramen. Lensa-lensa di kamera mereka panjang-panjang dan apa pula
pakai tripot. Mereka siap-siap mengabadikan moment pacuan jawi itu untuk
berbagai kepentingan.
Suasana di lokasi
pacuan seperti pesta malam. Ribuan penonton tumpah ruah, dan para
pedagang makanan, minuman, mainan anak-anak dan aksesoris juga
berdatangan menjajakan dagangannya.
Payung-payung besarpun terkembang oleh para pedagang untuk peneduh
tempatnya berjualan. Ratusan ribu, jutaan hingga puluhan juta rupiah
beredar membuat ekonomi berputar.
Acaranya
biasanya berlangsung pada sore hari hingga matahari terbenam. Tradisi
yang telah turun temurun ini makin hangat dengan alunan musik-musik
tradisional Minang yang diputar panitia dengan alat pengeras suara.
Sementara itu dua pasangan "jawi" atau sapi nampak bersiap di garis
star. Setelah semua benar-benar siap, baru seorang panitia mengibarkan
bendera star, bertanda pacuan dimulai.
Dua
pasang jawi lalu berpacu untuk menjadi yang tercepat dan terkuat.
Dipandu para joki yang memegang tali dan ekor ternak tersebut. Jawi-jawi
itu menghentakan kaki-kakinya di lintasan yang basah dan berlumpur.
Nampak sekali-kali air dan lumpur terciprat ke udara diterjang
kaki-kaki sapi. Sang joki kadang sampai mengigit ekor jawi dan
melecutinya untuk memberi semangat agar makin cepat berlari.
Sorak-sorai penonton bergema ditengah alunan musik talempong, puput dan gendang hingga acara pun makin meriah.
Lama pacuan tidak lebih dari satu menit dan beberapa kali
dilaksanakan menampilkan puluhan pasangan jawi nan jokinya. Hingga
akhirnya terpilih yang tercepat dan terkuat serta terbaik.
Yang tercepat, terkuat dan terbaik dianugerahi hadiah oleh panitia.
Nilai jual sapi-sapi pemenang pun menjadi tinggi dan jauh lebih mahal
dibanding sapi biasa.
Pacu jawi ini telah berlangsung sejak dulu di Tanah Datar, yang awalnya sebagai ungkapan rasa syukur setelah habis panen.
Kini tradisi itu telah menasional bahkan mendunia, masuk kalender tetap pariwisata daerah itu dan sangat diminati wisatawan.
Perlu dilestarikan, Bupati Tanah Datar, Irdinansyah Tarmizi meminta agar keunikan pacu jawi tetap dilestarikan.
"Kegiatan ini sangat unik dan berbeda dengan yang lain, sehingga
perlu dilestarikan sebagai budaya dan tradisi masyarakat Kabupaten Tanah
Datar," ujarnya.
Menurutnya, pacuan ini
sangat unik dan menarik hingga menjadi salah satu agenda pariwisata yang
diminati para fotografer dan wisatawan baik dalam maupun luar negeri.
Selain itu pacu jawi juga berdampak positif bagi perekonomian dan
sosial budaya masyarakat setempat, bisa pula meningkatkan pendapatan
masyarakat setempat dan daerah Tanah Datar umumnya.
Ketika acara pacu jawi ini diadakan masyarakat bisa menggelar aneka
jenis makanan, minuman, dan cendara mata. Selain itu, bagi para peternak
jawi atau sapi juga bisa pula meningkatkan kesejahteraannya. Ini karena
setiap sapi pacuan akan punya nilai jual berbeda. Sapi yang berlomba
akan lebih tinggi dibanding sapi biasa.
Tradisi pacu jawi kini bukan hanya milik masyarakat Kabupaten Tanah
Datar saja, tapi sudah mendunia sehingga diharapkan masyarakat bisa
mempertahankan tradisi ini dan dijaga agar jangan terpengaruh oleh
kebudayaan asing.
Para pengurus Persatuan
Olahraga Pacu Jawi (Porwi) setempat bersama Dinas Pariwisata, Pemuda dan
Olahraga bisa membuat kalender wisata kegiatan pacu jawi, sehingga para
wisatawan dalam dan luar negeri dapat menentukan waktu kapan mereka
bisa menyaksikan olahraga tradional yang unik dan menarik tersebut.
Bupati juga mengapresiasi masyarakat yang sudah melaksanakan lomba
pacuan jawi di lokasi persawahan yang sudah seringkali dilaksanakan.
Dikutip dari Kompas,
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Tanah Datar
Margawan, mengatakan, pihaknya merencanakan peningkatan kunjungan wisata
ke kabupaten ini tahun 2014 dengan menggelar Visit Tanah Datar 2014.
Saat ini kunjungan wisatawan di Kabupaten Tanah Datar baru berkisar
150.000 orang per tahun. Tahun depan diharapkan sekitar 500.000 orang
berkunjungan.
Ada empat kecamatan penyelenggara pacu jawi di Tanah Datar, yakni
Kecamatan V Kaum, Pariangan, Sungai Tarab,dan Rambatan. Menurut marwan,
pacu jawi terbesar dilaksanakan pada 10, 17, 24 dan 31 agustus 2013.
Kegiatan ini menjadi ajang bagi pemilik sapi untuk menguji kemampuan
berlari hewan peliharaan mereka. Sekitar 800 ekor sapi akan berpacu di
sawah dalam acara selama empat hari Sabtu dalam bulan Agustus itu.
“kalau sapi bisa berlari lurus, harganya bisa melonjak dua kali lipat
atau bahkan lebih dari harga normal”.
Pacu jawi digelar turun temurun. Sebelum terangkat menjadi kegiatan
wisata, pacu jawi adalah kegiatan lokal masyarakat sebelum musim tanam
dilakukan. Di tanah datar, sekitar 75 persen warganya adalah petani.
Hari Sabtu lalu, kegiatan pacu jawi untuk bulan Maret-April digelar di
Jorong Tigo Batur. Kegiatan diadakan selama lima kali hari Sabtu, pukul
12.00-15.00. lokasi pacu jawi juga dijadikan arena pacu jawi akbar ada
Agustus nanti. “Sekitar 400 sapi yang ikut kegiatan kali ini”, ujar
Ketua Persatuan Olahraga Pacu jawi (Porwi) Tanah Datar Fahmi.
Sapi didatangkan dari sejumlah nagari di Tanah Datar, jumlah sapi
semakin bertmbah setelah pacu jawi banyak digelar di Tanah Datar
beberapa tahun terakhir. Tiga tahun lalu, ada sekitar 80 sapi ikut serta
dalam sekali kegiatan pacu jawi. Selain itu ada sekitar 60 joki yang
biasa mengendalikan laju sapi.
Tak mudah sebenarnya mengendalikan laju sapi. Joki hanya berdiri di
tangkai bajak sambil memegang ekor sapi agar sapi mau berlari. Bertempur
dalam area sawah penuh lumpur. Kadang sapi berlari kearah yang tidak
seharusnya. Belum lagi yang harus dikendalikan adalah dua ekor sapi.
Cipratan lumpur mengenai seluruh tubuh joki bahkan mengenai mata. Dan
itu bisa mengganggu penglihatan para joki. Selengkapnya :
http://www.kompasiana.com/akbarisation/pacu-jawi-tanah-datar-perayaan-tradisional-atraksi-wisata_552951bd6ea8341a5b8b4575
Ada empat kecamatan
penyelenggara pacu jawi di Tanah Datar, yakni Kecamatan V Kaum,
Pariangan, Sungai Tarab,dan Rambatan. Menurut marwan, pacu jawi terbesar
dilaksanakan pada 10, 17, 24 dan 31 agustus 2013. Kegiatan ini menjadi
ajang bagi pemilik sapi untuk menguji kemampuan berlari hewan peliharaan
mereka. Sekitar 800 ekor sapi akan berpacu di sawah dalam acara selama
empat hari Sabtu dalam bulan Agustus itu.
“kalau sapi bisa berlari lurus, harganya bisa melonjak dua kali lipat
atau bahkan lebih dari harga normal”.
Pacu jawi digelar turun temurun. Sebelum terangkat menjadi kegiatan
wisata, pacu jawi adalah kegiatan lokal masyarakat sebelum musim tanam
dilakukan. Di tanah datar, sekitar 75 persen warganya adalah petani.
Hari Sabtu lalu, kegiatan pacu jawi untuk bulan Maret-April digelar di
Jorong Tigo Batur. Kegiatan diadakan selama lima kali hari Sabtu, pukul
12.00-15.00. lokasi pacu jawi juga dijadikan arena pacu jawi akbar ada
Agustus nanti. “Sekitar 400 sapi yang ikut kegiatan kali ini”, ujar
Ketua Persatuan Olahraga Pacu jawi (Porwi) Tanah Datar Fahmi.
Sapi didatangkan dari sejumlah nagari di Tanah Datar, jumlah sapi
semakin bertmbah setelah pacu jawi banyak digelar di Tanah Datar
beberapa tahun terakhir. Tiga tahun lalu, ada sekitar 80 sapi ikut serta
dalam sekali kegiatan pacu jawi. Selain itu ada sekitar 60 joki yang
biasa mengendalikan laju sapi.
Tak mudah sebenarnya mengendalikan laju sapi. Joki hanya berdiri di
tangkai bajak sambil memegang ekor sapi agar sapi mau berlari. Bertempur
dalam area sawah penuh lumpur. Kadang sapi berlari kearah yang tidak
seharusnya. Belum lagi yang harus dikendalikan adalah dua ekor sapi.
Cipratan lumpur mengenai seluruh tubuh joki bahkan mengenai mata. Dan
itu bisa mengganggu penglihatan para joki. Selengkapnya :
http://www.kompasiana.com/akbarisation/pacu-jawi-tanah-datar-perayaan-tradisional-atraksi-wisata_552951bd6ea8341a5b8b4575
SUTAN MINANG - Masyarakat Minangkabau sudah sepantasnya bangga hidup dan lahir di tanah yang punya kekuatan budayanya.
Keanekaragaman masyarakat, wisata, hingga kebiasaan yang telah turun temurun menjadi warisan yang tak bisa ditinggalkan begitu saja.
Banyak hal yang bisa kita lihat di Bumi Minang ini, salah satu yang paling manarik ialah Event Pacu Jawi yabg terdapat di daerah kabupaten Tanah Datar.
Dikutip dari instagram SEKALIJALAN.COM, Pacu Jawi (sapi) di Tanah Datar, Sumatera Barat ini menjadi salah satu spot wisata yang tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke sana.
Pacu jawi ini sangat unik dan menarik sehingga menjadi salah satu agenda pariwisata yang disukai para fotografer dan wisatawan lokal maupun mancanegara.
Di sisi lain, pacu jawi juga mempunyai dampak positif bagi perekonomian dan sosial budaya masyarakat yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Berdasarkan kalendar event pariwisata Sumatera Barat 2017, pacu jawi dapat disaksikan di kawasan Nagari Sawah Tangah, kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat pada 6 Mei 2017.
Tak dipungkiri, pacu jawi saat ini tak lagi milik orang Tanah Datar saja, tapi sudah mendunia sehingga diharapkan masyarakat dapat mempertahankan tradisi seperti ini dan tidak terpengaruh dengan budaya asing.
Kepala Dinas Parpora Tanah Datar Edisusanto mengatakan pacu jawi merupakan warisam budaya yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
“Kegiatan pacu jawi ini telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan menjadi sarana hiburan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat,” katanya. “Atraksi pacu jawi ini adalah permainan tradisional masyarakat di empat kecamatan di Tanah Datar yang diaplikasikan sebagai hiburan masyarakat,” katanya.
Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat melalui Kasi Strategi Pemasaran dan Brand Pariwisata, Riza Chandra, menambahkan pacu jawi dilaksanakan untuk mengisi masa setelah panen padi sampai musim bercocok tanam yang prosesinya dilaksanakan secara adat Minangkabau.
Jika kita telaah dari berbagai foto yang beredar, event ini cukup unik dan sayang jika dilewatkan, bagi teman-teman yang ke sumbar.
Pasalnya, kegiatan ini hanya dapat ditemui di Kabupaten Tanah Datar, dan tidak ada di Daerah lain.
Jika punya keinginan datang ke Sumatera Barat, jangan lupa datang ke kabupaten tanah datar pada 6 Mei 2017 ini ya.
salah satu atraksi di festival langkisau. sumber nazhalitsnaen
SUTAN MINANG -Postingan kali ini admin ambil dari antarasumbar. Tentang kegiatan festival Langkisau.
Festival Langkisau di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat,
disiapkan sebagai magnet untuk mempromosikan pariwisata di daerah yang
berjulukan "Negeri Sejuta Pesona" itu.
"Penyelenggaraan Festival Langkisau juga untuk menyemarakkan hari jadi
kabupaten ke-69," kata Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga
Pesisir Selatan, Zefnihan, di Painan, Kamis.
Kegiatan tersebut dimulai pada 16 April 2017 atau sehari setelah
peringatan hari jadi kabupaten dan akan digelar hingga 22 April 2017.
Beberapa kegiatan yang dilaksanakan selama festival di antaranya
bazar, pameran, lomba burung berkicau, permainan tradisional, pemilihan
uda-uni dan lainnya.
"Dengan berbagai
perlombaan tersebut kami tidak hanya menargetkan wisatawan lokal namun
mancanegara juga ikut menikmatinya," ujarnya.
Festival Langkisau akan dibuka oleh pejabat pada Kementerian
Pariwisata sedangkan khusus bagi masyarakat Pesisir Selatan undangan
secara menyeluruh langsung disampaikan oleh wali nagari atau kepala desa
adat sebagai perpanjangan tangan pemerintah kabupaten.
Penyelenggaraan Festival Langkisau difokuskan di Pantai Carocok sebagai salah satu lokasi wisata andalan kabupaten itu.
Selain memiliki lokasi luas, juga terdapat sebuah pentas dan lokasi
parkir bisa menampung kendaraan dalam jumlah banyak serta yang tidak
kalah menarik adalah pengunjung disuguhi pemandangan pantai yang luar
biasa. (*)