Thursday

Sulitnya Memperjuangkan Cinta Karena Berbeda Taraf Hidup

SUTAN MINANG - "Kekuatan cinta di antara mereka berdua lah yang membuat kami bisa terlahir ke dunia ini. Taraf hidup yang berbeda tak menyurutkan niat mereka untuk bersatu dan mengarungi biduk rumah tangga bersama-sama". 

Demikian ketipan dari alur cerita saya kali ini. 

Saya di lahirkan di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Lebih tepatnya di Kenagarian Air Dingin. 

Saya memiliki kedekat luar biasa dengan keluarga dari ayah (bako). Sewaktu masih balita hingga menduduki bangku Sekolah Dasar (SD), saya sering bermain, bermalam, dan bahkan menghabiskan masa kecil di rumah bako ini. 

Kedekatan dengan bako tak bisa diukur, meski melanjutkan pendidikan ke luar daerah dan bahkan saat ini merantau dan bekerja di Pekanbaru, bako selalu menjadi rumah kedua yang dikunjungi setelah rumah dari kedua orangtua ketika saya balik kampung.
Baiklah, kita masuk ke inti cerita.

Saat itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Saya tak begitu ingat saat itu kelas berapa, yang pasti belum sampai kelas enam. Suatu malam saya tidur di rumah bako,  seperti biasa kakak pertama dari ayah (Mak Uwo) selalu memberikan cerita-cerita menyenangkan guna mengantar tidur kami. 

Malam itu, tanpa diminta tiba-tiba beliau menceritakan betapa kerasanya perjuangan kedua orangtua saya untuk bisa bersatu menjadi pasangan suami istri hingga saya, kakak dan adik-adik terlahir ke dunia ini.

Mengawali ceritanya, Mak Uwo menyebutkan bahwa sebelum kedua orang tua saya dipertemukan, ayah saya berencana akan menikah dengan salah satu perempuan, entah siapa itu.

Niat baik itu sudah bulat, tapi karena sesuatu dan beberapa hal, membuat semuanya batal begitu saja.
Ibu saya menghabiskan waktu remajanya di daerah Padang Aro, Kabupaten Solok Selatan (Solsel). Ikut orangtuanya (nenek saya) bekerja dan mencari kehidupan disana. 

Meski besar dan hidup di tempat negeri orang, namun nenek tak melupakan daerah asal. Sesekali mereka pulang guna melihat dan bersilitaruhmi dengan sanak saudara di kampung halaman (Air Dingin). 

Suatu ketika, mungkin karena sudah jodoh, ayah bertemu dengan ibu pada saat moment pulang kampung. Saling berkenalan hingga akhirnya memiliki kedekatan. 

Hati yang sudah menyatu, kasih sayang yang telah terjalin, membuat mereka yakin akan lebih bahagia jika bersama mengarungi biduk rumah tangga. 
Niat kedua orangtua saya itu tak mendapat sambutan baik dari sang Nenek. Mendengar kabar rencana ayah dan ibu untuk menikah, membuat nenek langsung bergegas balik ke Padang Aro.

"Saya tidak setuju, saya sudah siapkan orang yang siap menikah dengan mu di Padang Aro yang lebih pantas dan cocok. Mengapa kamu pilih suami tukang angkat batu, di Padang Aro ada colon yang lebih baik," demikian ungkap kata sang nenek yang saya dengar dari cerita Mak Uwo di malam itu.

Saya sangat fokus dan begitu terharu mendengar kisah ini. Pikiran menerawang, membayangkan betapa sulitnya orangtua saya berjuang.

Ibu saya kekeh dan bersikeras untuk tetap bisa bersama dengan ayah, meski di lain hal nenek saya terus memaksa agar ibu tetap kembali pulang ke Padang Aro, Solok Selatan.

Kata Mak Uwo, ayah saya, orang tua, dan keluarganya yang lain begitu sadar bahwa sakit dan sulitnya kehidupan yang membuat nenek saya menentang hubungan itu. 
Kasih sayang yang telah tumbuh, hati yang sudah benar-benar yakin satu sama lain, membuat mereka akhirnya bersatu. Tapi masih ada batu karang penghadang.

Ketika nenek saya bergegas untuk balik ke Padang Aro, kemudian menunggu bus di tepi jalan lintas, disitulah cerita mengharukan terjadi. 

Ayah saya ikut mengantar nenek dan ibu menunggu bus. Ketika mobil datang, ibu malah bersikiras untuk tidak mau naik, beliau tegas dengan pendiriannya untuk bisa bersatu membangun rumah tangga bersama ayah.

Nenek begitu geram dan beliau sangat marah. 

"Tidak boleh, kita harus balik ke Padang Aro. Sudah ada calon suami yang lebih baik dari tukang angkat batu itu, kita harus balik, bus sudah menunggu," ungkap Mak Uwo sembari saya membayangkan seperti apa situasi kala itu.

Nenek memegang pergelangan tangan kiri dari ibu dengan kedua tangannya. Ibu saya tetap kekeh hingga tangan kanannya berpegangan ke salah satu tumpukan rumput yang batangnya sangat kuat. 

Terjadilah terik ulur. Bahkan kekuatan nenek menarik pergelangan tangan ibu, membuat tumpukan rumput itu pun putus.

Ibu saya menangis, memohon sambil bersimpuh agar hubungannya dengan ayah direstui.

Mak Uwo pun bilang, betapa ramainya masyarakat melihat kajadian kalai itu. Ibu saya saat itu terus menangis, ayah tak bisa berbuat apa-apa karena beliau sangat sadar kondisi hiduplah yang membuat mereka seakan tak bisa bersama.

Karena saat itu masyarakat di sekitar begitu ramai, akhirnya sang nenek sedikit mereda, sehingga niat awal untuk segara balik ke Padang Aro pun batal.

Singkat cerita, kemauan yang sama-sama kuat serta kayakinan akan bahagia jika hidup bersama antara kedua orangtua saya, akhirnya nenek pun merestui hubungan itu dan akhirnya mereka pun dinikahkan. Walau begitu, bukan berarti nenek sudah menerima sepenuhnya keberadaan ayah. Kehidupan yang masih sulit membuat ayah harus ekstra berjuang agar bisa mengambil hati nenek untuk bisa diakui sebagai menantu.
Kata Mak Uwo, memang butuh waktu lama agar ayah bisa menagmbil hati nenek. Namun karena ayah adalah seorang yang gigih dan mau bekerja keras memperbaiki taraf hidup, keberadaannya pun akhirnya diterima. Apalagi sejak ibu sudah memiliki momongan, yaitu kakak pertama saya, hingga sampai saat ini kedua orangtua saya sudah melahirkan 9 orang anak, termasuk saya anak ke 5.

Demikian cerita singkat ini. Maaf cuma ingin berbagi. 

Terimakasih

Salam dari Blogger kece Hendri Gusmulyadi

Share:
Read More

Monday

Cuma Berbagi, Ini Nama Panggilan Di Minangkabau

foto : http://surauparabek.com
SUTAN MINANG - Bagi orang Minang nama itu penting. Ketek banamo - gadang bagala. Katiko ketek disabuik namo - alah gadang disabuik gala.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa yang dikatakan sepesukuan sebagai unit terkecil dalam sistem kekerabatan Minang terdiri dari 5 lapis generasi atau keturunan. Mungkin dalam satu masa tidak terdapat kelima tingkat keturunan itu, karena hal itu sangat tergantung dari usia rata-rata anggota suku dari tiap generasi.

Panggilan Sesama Anak
Adik memanggil kakaknya yang perempuan dengan "Uni" dan "Uda" untuk kakak lelaki. Antara mereka yang seusia, memanggil nama masing-masing. Si Ani memanggil si Ana dengan menyebut Ana. Si Husin memanggil si Hasan dengan sebutan Hasan.Mande dan Mamak serta generasi yang lebih tua, memanggil anak-anak dengan panggilan kesayangan "Upiak" pada anak perempuan dan "Buyuang" untuk anak laki-laki.

Panggilan untuk Ibu dan Paman
Anak sebagai generasi terbawah dalam susunan pesukuan Minang, mempunyai panggilan kehormatan terhadap ibu dan saudara ibunya, serta generasi yang berada diatasnya.Anak memanggil ibunya dengan panggilan Mande - Amai - Ayai - Biyai - Bundo - Andeh dan di zaman modern ini dengan sebutan Mama - Mami - Amak - Ummi dan Ibu.Jika ibu kita mempunyai saudara perempuan yang lebih tua dari ibu kita (kakak ibu) maka sebagai anak kita memanggilnya dengan istilah Mak Adang yang berasal dari kata Mande dan Gadang.
Bila ibu mempunyai adik perempuan, maka kita memanggilnya dengan Mak Etek atau Etek yang berasal dari kata Mande nan Ketek.
Bila ibu kita punya saudara lelaki, kita panggil beliau dengan Mamak. Semua lelaki dalam pesukuan itu, dan dalam suku yang serumpun yang menjadi kakak atau adik dari ibu kita, disebut Mamak. Jadi Mamak tidak hanya sebatas saudara kandung ibu, tapi semua lelaki yang segenerasi dengan ibu kita dalam suku yang serumpun. Dengan demikian kita punya Mamak Kanduang, Mamak Sejengkal, Mamak Sehasta, Mamak Sedepa sesuai dengan jarak hubungan kekeluargaan. Mamak Kandung adalah Mmamak dalam lingkungan semande.
Mamak tertua dan yang lebih tua dari ibu kita, kita panggil dengan istilah Mak Adang dari singkatan Mamak nan Gadang sedangkan yang lebih muda dari ibu kita , kita sebut dengan Mak Etek atau Mamak nan Ketek. Mamak yang berusia antara yang tertua dan yang termuda dipanggil dengan Mak Angah atau Mamak nan Tangah.

Kedudukan Mamak
Mamak mempunyai kedudukan yang vital dalam struktur kekerabatan minang, khususnya dalam hubungan Mamak-Kemenakan, seperti diatur dalam Pepatah Adat berikut ini.
Kamanakan barajo ka mamak,
Mamak barajo ka panghulu,
Panghulu barajo ka mufakat,
Mufakat barajo ka nan bana,
Bana badiri sandirinyo.
Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa mamak mempunyai kedudukan yang sejajar dengan ibu kita. Karena beliau itu saudara kandung. Sehingga mamak dapat diibaratkan sebagai ibu-kandung kita juga kendatipun beliau lelaki.

Adat Minang bahkan memberikan kedudukan dan sekaligus kewajiban yang lebih berat kepada mamak ketimbang kewajiban ibu. Adat mewajibkan mamak harus membimbing kemenakan, mengatur dam mengawasi pemanfaatan harta pusaka, mamacik bungka nan piawai.

Kewajiban ini tertuang dalam pepatah adat, ataupun dalam kehidupan nyata sehari-hari. Kewajiban untuk membimbing kemenakan sudah selalu didendangkan orang Minang dimana-mana. Namun kini sudah mulai jarang diamalkan

Pepatah menyebutkan :

Kaluak paku kacang balimbiang,Buah simantuang lenggang lenggangkan,Anak dipangku kamanakan dibimbiang,Urang kampuang dipatenggangkan.

Kewajiban mamak terhadap harta pusaka antaranya dalam menjaga batas sawah ladang, mengatur pemanfaatan hasil secara adil di lingkungan seperindukan, dan yang terpenting mempertahankan supaya harta adat tetap berfungsi sesuai ketentuan adat.

Fungsi utama harta pusaka :

Sebagai bukti dan lambang penghargaan terhadap jerih payah nenek moyang yang telah mencancang-malateh, manambang-manaruko, mulai dari niniek dan inyiek zaman dahulu, sampai ke mande kita sendiri. Karena itu kurang pantaslah bila kita sebagai anak cucu, tidak memeliharanya, apalagi kalau mau menjualnya. Tugas mamak terutama untuk menjaga keberadaan harta pusaka ini.
Ramo-ramo si kumbang janti,
Katik Endah pulang bakudo,
Patah tumbuah hilang baganti,
Harto pusako dijago juo.

Sebagai lambang ikatan kaum yang bertali darah. Supaya tali jangan putus, kait-kait jangan sekah (peceh) sehingga pusaka ini menjadi harta sumpah satie (setia), sehingga barang siapa yang merusak harta pusaka ini, akan merana dan sengsara seumur hidupnya dan keturunannya.

Sebagai jaminan kehidupan kaum jaman dahulu sehingga sekarang terutama tanah-tanah pusaka. Baik kehidupan zaman agraris, maupun kehidupan zaman industri, tanah memegang peranan yang sangat strategis. Jangan terpedaya atas ajaran individualistis atas tanah, yang bisa menghancurkan sendi-sendi adat Minang.

Sebagai lambang kedudukan social.

Itulah 4 fungsi utama dari harta pusaka yang menjadi kewajiban mamak untuk memeliharanya.

Kewajiban mamak sebagai pamacik bunka nan piawai, selaku pemegang keadilan dan kebenaran. Kewajiban ini dilakukan dengan bersikap adil terhadap semua kemenakan. Antaranya dalam pemanfaatan hasil harta pusaka tinggi. Dilain pihak penanggung jawab terhadap ikatan perjanjian antara pihak luar pesukuan misalnya dalam ikatan perkawinan. Bila sudah ada kesepakatan antara kedua keluarga, maka mamaklah menjadi penanggung jawab atas kesepakatan itu. Bila terjadi ingkar janji, mamaklah yang harus membayar hutang. Bila telah dilakukan Tukar Tando sebagai tanda kesepakatan, maka mamaklah yang akan menjadi tumpuan dan tumbal bagi kesepakatan itu.
Mamaklah yang menjadi penanggung jawab atas janji antara kedua keluarga ini, bukan kemenakan yang akan dikawinkan.

Panggilan Generasi Ketiga
Dalam hubungan pesukuan diatas, terlihat bahwa kita sebagai anak menjadi generasi kelima. Kita sebagai generasi kelima, memanggil "Uo" atau "Nenek" kepada Mande dari ibu kita sendiri dan Mamak atau Tungganai (Mamak Kepala Waris) pada saudara lelaki dari Uo (Nenek) kita. Berdasarkan pada pengelompokkan umur rata-rata, maka yang diangkat jadi Penghulu dalam pesukuan ini, biasanya dari kelompok tungganai ini. Pada saat kita lahir,kelompok para tungganai ini berusia sekitar 40 tahun, sehingga memenuhi syarat usia yang pantas untuk memimpin suku (kaum) kita.

Selanjutnya pada generasi kedua kita memanggil Gaek untuk perempuan dan Datuak pada lelaki yang termasuk dalam generasi kedua ini.

Generasi pertama (kalau masih hidup) kita sebut dengan panggilan Niniek untuk perempuan dan Inyiek untul lelaki yang termasuk generasi pertama. Usia rata-rata generasi pertama ini, pada saat kita lahir sekitar 80 th.

Bagi mamak atau tungganai yang diangkat jadi Penghulu, diberi gelar DATUK. Keluarga yang seusia atau lebih tua dari Penghulu memanggilnya dengan "Ngulu", sedangkan yang lebih muda dengan panggilan yang biasa seperti Uda dan Mamak.


(Sumber : Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang)

copas lagi dari adat budaya minang

baca juga 
Pacu Jawi Yang Berlumuran Lumpur, Asiiikkkk
Share:
Read More

Friday

, ,

Ini Event Wisata Sumbar Mei 2017, Mana Yang Bakalan Kamu Saksikan

SUTAN MINANG -Bagi yang ingin datang ke sumbar atau masyarakat Minangkabau yang belum tahu event wisata bulan Mei 2017, Berikut ada beberapa Event, Sutan Minang ambil dari situs Wonderfulminangkabau.com dengan ulasan dari berbgai sumber.

1. Berkaul di Kabupaten Sijinjung pada 7 Mei
Berkaul bisa dikenal dengan sebutan "'Bakaua". Pada umumnya setiap nagari di Kabupaten Sijunjung hingga saat ini masih tetap melaksanakannya dan biasanya bakaua adat ini dilaksanakan setelah selesai masa panen dan hendak menjelang musim tanam ditahun berikutnya.

Barajamanulih.blogspot.co.id
Biasanya pelaksanaan bakaua adat ini diawali terlebih dahulu dengan musyawarah diting­kat nagari, yang dihadiri seluruh petinggi-petinggi nagari, mulai dari ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai serta walinagari dan lembaga-lembaga yang ada di nagari. Setelah didapat kata sepakat, bulek alah sagolek, picak alah salayang, maka ditentu­kanlah hari pelaksanaan bakaua, termasuk berbagai jenis hiburan yang akan ditampil­kan pada malam bajago-jago guna meny­emarakkan alek anak nagari tersebut. Mis­alnya penampilan kesenian randai, selawat dulang, saluang dendang, rabab maupun yang lainnya. (info dari Barajamanulih.blogspot.co.id) 
  
2. Festival Danau Maninjau di Kabupaten Agam Pada 14 Mei
  
Festival ini digelar oleh masyarakat dan pemerintah Agam sebagai sebuah langkah untuk kembali menggali dan mempromosikan wisata di Kabupaten Agam, dan festival ini digelar setiap tahunnya.
sumbarsatu.com



Dikutip dari sumbarsatu.com Festival Danau Maninjau biasanya menampilkan Lomba Dayuang atau Perahu, Lomba Tambua Tansa dilaksanakan, Lomba Saluang Tradisional, Lomba Talempong Agung, Pameran Usaha Kecil Menengah (UKM) Kreatif. 

3. Pacu Jawi di Kabupaten Tanah Datar pada 13 sampai 27 Mei
Pacu jawi merupakan budaya asli Kabupaten Tanah Datar yang sudah turun temurun. Tak pernah berhenti, event tahunan yang ditaja oleh masyarakat setempat ini menjadi sebuah kebanggan warga Minangkabau yang banyak ditonton oleh turis pada setiap gelarannya, baik itu dari dalam Negeri ataupun Mancanegara.
 
baralekdi.blogspot.co.id
Saat kegiatan betapa penuh perjuangan para Joki yang sedang menunggangi Sapi-sapi (Jawi) mereka. Berjibaku di tengah-tengah lumpur tak membuat sang Joki merasa kewalahan.

Dalam aturan permainan pacu jawi, sang Joki harus siap dengan dua ekor sapi ternak mereka. Sapi-sapi tersebut dipasangi satu bajak sekaligus tempat berdiri atau menjadi posisi kemudi sang Joki.
4. Sahec ‘Semalam di Soedoet Kampoeng di Goedang Ransoem, Sawalunto Minggu ketiga Mei
Event ini ditaja oleh Sawahlunto Heritage Community (SAHEC) di Halaman Museum Goedang Ransoem Kota Sawahlunto . Acara ini bertujuan agar masyarakat Sawahlunto khususnya untuk dapat mengetahui, menjaga, dan melestarikan warisan dan budaya yang pernah ada di Kota Sawahlunto dulu demi terwujudnya tujuan kita bersama yaitu menjadikan Kota Sawahlunto sebagai Kota Tua Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO dan mampu menarik wisatawan berkunjung ke Kota Sawahlunto. 
http://jinderapura.blogspot.co.id
Adapun bentuk kegiatan pada acara ini antara lain, belajar menganyam janur (ketupat, kembang mayang, dll), permainan lomba anak remaja tempo doeloe (congklak, bakiak, dll) dan juga ada penampilan kesenian randai, orkes keroncong serta permainan anak nagari. 
Disini juga dapat kita temukan dan nikmati makanan khas tempo doeloe seperti getuk, tiwul, sawut, kue talam, gembloeng, dan wedang jahe. So...buat yang ingin berkunjung dan bermalam minggu di soedoet kampoeng jangan lupa untuk pakai busana tempoe doeloe. Don'y Miss It... Salam Pesona Indonesia. (sumber sawahluntotourism.com)
5. Festival Gandoriah di Kota pariaman pada 25-28 Mei
Biasanya Sembilan perlombaan dalam event ini. Lomba beruk memetik kelapa, lom­ba layang-layang kreasi, lom­ba memasak bermacam jenis sala piaman, lomba foto objek wisata, lomba kuliner gulai kapalo ikan, lomba surving, lagu minang, lomba video pesona wisata Paria­man dan Gandoriah Music Fiesta. 
https://m.tempo.co
Pemerintah Kota pa­riaman konsisten dengan visi misinya yaitu men­ja­dikan Kota Pariaman dae­rah tujuan wisata pantai dan bahari. Sebagai upaya itu beragam festival menjadi kalender wisata, sejak dari  Festival Pesona Gandoriah, Tabuik, dan Triathlon telah diagendakan sebagai iven nasional oleh Kementerian Pariwisata. (harianhaluan.com)

Share:
Read More

Thursday

, ,

Serunya Menyaksikan Pacu Jawi

SUTAN MINANG - Pacu jawi merupakan budaya asli Kabupaten Tanah Datar yang sudah turun temurun. Tak pernah berhenti, event tahunan yang ditaja oleh masyarakat setempat ini menjadi sebuah kebanggan warga Minangkabau yang banyak ditonton oleh turis pada setiap gelarannya, baik itu dari dalam Negeri ataupun Mancanegara.

Dalam Video yang Sutan Minang tampilkan berikut, sudah dapat menjadi bukti betapa meriah dan serunya kegiatan yang sudah tercantum dalam kelender kegiatan tahunan Dinas Pariwisata Kabupaten Tanah datar ini.

Dapat kita lihat, betapa penuh perjuangan para Joki yang sedang menunggangi Sapi-sapi (Jawi) mereka. Berjibaku di tengah-tengah lumpur tak membuat sang Joki merasa kewalahan.

Dalam aturan permainan pacu jawi, sang Joki harus siap dengan dua ekor sapi ternak mereka. Sapi-sapi tersebut dipasangi satu bajak sekaligus tempat berdiri atau menjadi posisi kemudi sang Joki.
baralekdi.blogspot.co.id
Mungkin sudah bisa dibayangkan betapa uniknya kegiatan Pacu Jawi ini. Pasti ada sebagian pembaca yang kini sedang mengalami panasaran berat dan ingin meyaksikan secara langsung penyelenggaraan event Budaya yang geliatnya sudah mencapai Dunia Internasional.



Ada empat kecamatan penyelenggara pacu jawi di Tanah Datar, yakni Kecamatan V Kaum, Pariangan, Sungai Tarab,dan Rambatan. Menurut marwan, pacu jawi terbesar dilaksanakan pada 10, 17, 24 dan 31 agustus 2013. Kegiatan ini menjadi ajang bagi pemilik sapi untuk menguji kemampuan berlari hewan peliharaan mereka. Sekitar 800 ekor sapi akan berpacu di sawah dalam acara selama empat hari Sabtu dalam bulan Agustus itu. “kalau sapi bisa berlari lurus, harganya bisa melonjak dua kali lipat atau bahkan lebih dari harga normal”. Pacu jawi digelar turun temurun. Sebelum terangkat menjadi kegiatan wisata, pacu jawi adalah kegiatan lokal masyarakat sebelum musim tanam dilakukan. Di tanah datar, sekitar 75 persen warganya adalah petani. Hari Sabtu lalu, kegiatan pacu jawi untuk bulan Maret-April digelar di Jorong Tigo Batur. Kegiatan diadakan selama lima kali hari Sabtu, pukul 12.00-15.00. lokasi pacu jawi juga dijadikan arena pacu jawi akbar ada Agustus nanti. “Sekitar 400 sapi yang ikut kegiatan kali ini”, ujar Ketua Persatuan Olahraga Pacu jawi (Porwi) Tanah Datar Fahmi. Sapi didatangkan dari sejumlah nagari di Tanah Datar, jumlah sapi semakin bertmbah setelah pacu jawi banyak digelar di Tanah Datar beberapa tahun terakhir. Tiga tahun lalu, ada sekitar 80 sapi ikut serta dalam sekali kegiatan pacu jawi. Selain itu ada sekitar 60 joki yang biasa mengendalikan laju sapi. Tak mudah sebenarnya mengendalikan laju sapi. Joki hanya berdiri di tangkai bajak sambil memegang ekor sapi agar sapi mau berlari. Bertempur dalam area sawah penuh lumpur. Kadang sapi berlari kearah yang tidak seharusnya. Belum lagi yang harus dikendalikan adalah dua ekor sapi. Cipratan lumpur mengenai seluruh tubuh joki bahkan mengenai mata. Dan itu bisa mengganggu penglihatan para joki.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/akbarisation/pacu-jawi-tanah-datar-perayaan-tradisional-atraksi-wisata_552951bd6ea8341a5b8b4575
Dikutip dari Antarasumbar.com, dapat semakin memperjelaskan geliat Pacu Jawi.
Penonton dalam event ini tak memandang usia, mulai dari laki-laki dan wanita. Bahkan, acara ini banyak diminati berbagai kalangan, baik itu Orang tua, dewasa, remaja, anak-anak, balita hingga bayi yang masih dalam gendonga.



Asal penonton pun beragam, ada warga lokal Tanah Datar, Sumatera Barat dan wilayah lainnya di Sumatera, bahkan Indonesia yang jadi wisatawan. Di antara mereka juga nampak orang berkulit putih dan berhidung mancung yang sengaja datang sebagai dari mancanegara.

Para wisatawan dalam dan luar negeri itu berkunjung sebagai bagian trip paket wisata mereka di Ranahminang yang telah disusun pihak tour dan travelnya.
baralekdi.blogspot.co.id

Di tengah gemuruh penonton juga nampak sejumlah fotografer lokal dan mancanegara, juga beberapa kameramen. Lensa-lensa di kamera mereka panjang-panjang dan apa pula pakai tripot. Mereka siap-siap mengabadikan moment pacuan jawi itu untuk berbagai kepentingan.

Suasana di lokasi pacuan seperti pesta malam. Ribuan penonton tumpah ruah, dan para pedagang makanan, minuman, mainan anak-anak dan aksesoris juga berdatangan menjajakan dagangannya.

Payung-payung besarpun terkembang oleh para pedagang untuk peneduh tempatnya berjualan. Ratusan ribu, jutaan hingga puluhan juta rupiah beredar membuat ekonomi berputar.

Acaranya biasanya berlangsung pada sore hari hingga matahari terbenam. Tradisi yang telah turun temurun ini makin hangat dengan alunan musik-musik tradisional Minang yang diputar panitia dengan alat pengeras suara.

Sementara itu dua pasangan "jawi" atau sapi nampak bersiap di garis star. Setelah semua benar-benar siap, baru seorang panitia mengibarkan bendera star, bertanda pacuan dimulai.

Dua pasang jawi lalu berpacu untuk menjadi yang tercepat dan terkuat. Dipandu para joki yang memegang tali dan ekor ternak tersebut. Jawi-jawi itu menghentakan kaki-kakinya di lintasan yang basah dan berlumpur.

Nampak sekali-kali air dan lumpur terciprat ke udara diterjang kaki-kaki sapi. Sang joki kadang sampai mengigit ekor jawi dan melecutinya untuk memberi semangat agar makin cepat berlari.
baralekdi.blogspot.co.id
Sorak-sorai penonton bergema ditengah alunan musik talempong, puput dan gendang hingga acara pun makin meriah.

Lama pacuan tidak lebih dari satu menit dan beberapa kali dilaksanakan menampilkan puluhan pasangan jawi nan jokinya. Hingga akhirnya terpilih yang tercepat dan terkuat serta terbaik. 
Yang tercepat, terkuat dan terbaik dianugerahi hadiah oleh panitia. Nilai jual sapi-sapi pemenang pun menjadi tinggi dan jauh lebih mahal dibanding sapi biasa.

Pacu jawi ini telah berlangsung sejak dulu di Tanah Datar, yang awalnya sebagai ungkapan rasa syukur setelah habis panen.

Kini tradisi itu telah menasional bahkan mendunia, masuk kalender tetap pariwisata daerah itu dan sangat diminati wisatawan.
covesia.com
Perlu dilestarikan, Bupati Tanah Datar, Irdinansyah Tarmizi meminta agar keunikan pacu jawi tetap dilestarikan.

"Kegiatan ini sangat unik dan berbeda dengan yang lain, sehingga perlu dilestarikan sebagai budaya dan tradisi masyarakat Kabupaten Tanah Datar," ujarnya.

Menurutnya, pacuan ini sangat unik dan menarik hingga menjadi salah satu agenda pariwisata yang diminati para fotografer dan wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

Selain itu pacu jawi juga berdampak positif bagi perekonomian dan sosial budaya masyarakat setempat, bisa pula meningkatkan pendapatan masyarakat setempat dan daerah Tanah Datar umumnya.

Ketika acara pacu jawi ini diadakan masyarakat bisa menggelar aneka jenis makanan, minuman, dan cendara mata. Selain itu, bagi para peternak jawi atau sapi juga bisa pula meningkatkan kesejahteraannya. Ini karena setiap sapi pacuan akan punya nilai jual berbeda. Sapi yang berlomba akan lebih tinggi dibanding sapi biasa.

Tradisi pacu jawi kini bukan hanya milik masyarakat Kabupaten Tanah Datar saja, tapi sudah mendunia sehingga diharapkan masyarakat bisa mempertahankan tradisi ini dan dijaga agar jangan terpengaruh oleh kebudayaan asing.

Para pengurus Persatuan Olahraga Pacu Jawi (Porwi) setempat bersama Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga bisa membuat kalender wisata kegiatan pacu jawi, sehingga para wisatawan dalam dan luar negeri dapat menentukan waktu kapan mereka bisa menyaksikan olahraga tradional yang unik dan menarik tersebut.

Bupati juga mengapresiasi masyarakat yang sudah melaksanakan lomba pacuan jawi di lokasi persawahan yang sudah seringkali dilaksanakan.
Ini Videonya dari aduhmalu
 



Dikutip dari Kompas, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Tanah Datar Margawan, mengatakan, pihaknya merencanakan peningkatan kunjungan wisata ke kabupaten ini tahun 2014 dengan menggelar Visit Tanah Datar 2014. Saat ini kunjungan wisatawan di Kabupaten Tanah Datar baru berkisar 150.000 orang per tahun. Tahun depan diharapkan sekitar 500.000 orang berkunjungan. Ada empat kecamatan penyelenggara pacu jawi di Tanah Datar, yakni Kecamatan V Kaum, Pariangan, Sungai Tarab,dan Rambatan. Menurut marwan, pacu jawi terbesar dilaksanakan pada 10, 17, 24 dan 31 agustus 2013. Kegiatan ini menjadi ajang bagi pemilik sapi untuk menguji kemampuan berlari hewan peliharaan mereka. Sekitar 800 ekor sapi akan berpacu di sawah dalam acara selama empat hari Sabtu dalam bulan Agustus itu. “kalau sapi bisa berlari lurus, harganya bisa melonjak dua kali lipat atau bahkan lebih dari harga normal”. Pacu jawi digelar turun temurun. Sebelum terangkat menjadi kegiatan wisata, pacu jawi adalah kegiatan lokal masyarakat sebelum musim tanam dilakukan. Di tanah datar, sekitar 75 persen warganya adalah petani. Hari Sabtu lalu, kegiatan pacu jawi untuk bulan Maret-April digelar di Jorong Tigo Batur. Kegiatan diadakan selama lima kali hari Sabtu, pukul 12.00-15.00. lokasi pacu jawi juga dijadikan arena pacu jawi akbar ada Agustus nanti. “Sekitar 400 sapi yang ikut kegiatan kali ini”, ujar Ketua Persatuan Olahraga Pacu jawi (Porwi) Tanah Datar Fahmi. Sapi didatangkan dari sejumlah nagari di Tanah Datar, jumlah sapi semakin bertmbah setelah pacu jawi banyak digelar di Tanah Datar beberapa tahun terakhir. Tiga tahun lalu, ada sekitar 80 sapi ikut serta dalam sekali kegiatan pacu jawi. Selain itu ada sekitar 60 joki yang biasa mengendalikan laju sapi. Tak mudah sebenarnya mengendalikan laju sapi. Joki hanya berdiri di tangkai bajak sambil memegang ekor sapi agar sapi mau berlari. Bertempur dalam area sawah penuh lumpur. Kadang sapi berlari kearah yang tidak seharusnya. Belum lagi yang harus dikendalikan adalah dua ekor sapi. Cipratan lumpur mengenai seluruh tubuh joki bahkan mengenai mata. Dan itu bisa mengganggu penglihatan para joki.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/akbarisation/pacu-jawi-tanah-datar-perayaan-tradisional-atraksi-wisata_552951bd6ea8341a5b8b4575


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/akbarisation/pacu-jawi-tanah-datar-perayaan-tradisional-atraksi-wisata_552951bd6ea8341a5b8b4575


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/akbarisation/pacu-jawi-tanah-datar-perayaan-tradisional-atraksi-wisata_552951bd6ea8341a5b8b4575


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/akbarisation/pacu-jawi-tanah-datar-perayaan-tradisional-atraksi-wisata_552951bd6ea8341a5b8b4575
Ada empat kecamatan penyelenggara pacu jawi di Tanah Datar, yakni Kecamatan V Kaum, Pariangan, Sungai Tarab,dan Rambatan. Menurut marwan, pacu jawi terbesar dilaksanakan pada 10, 17, 24 dan 31 agustus 2013. Kegiatan ini menjadi ajang bagi pemilik sapi untuk menguji kemampuan berlari hewan peliharaan mereka. Sekitar 800 ekor sapi akan berpacu di sawah dalam acara selama empat hari Sabtu dalam bulan Agustus itu. “kalau sapi bisa berlari lurus, harganya bisa melonjak dua kali lipat atau bahkan lebih dari harga normal”. Pacu jawi digelar turun temurun. Sebelum terangkat menjadi kegiatan wisata, pacu jawi adalah kegiatan lokal masyarakat sebelum musim tanam dilakukan. Di tanah datar, sekitar 75 persen warganya adalah petani. Hari Sabtu lalu, kegiatan pacu jawi untuk bulan Maret-April digelar di Jorong Tigo Batur. Kegiatan diadakan selama lima kali hari Sabtu, pukul 12.00-15.00. lokasi pacu jawi juga dijadikan arena pacu jawi akbar ada Agustus nanti. “Sekitar 400 sapi yang ikut kegiatan kali ini”, ujar Ketua Persatuan Olahraga Pacu jawi (Porwi) Tanah Datar Fahmi. Sapi didatangkan dari sejumlah nagari di Tanah Datar, jumlah sapi semakin bertmbah setelah pacu jawi banyak digelar di Tanah Datar beberapa tahun terakhir. Tiga tahun lalu, ada sekitar 80 sapi ikut serta dalam sekali kegiatan pacu jawi. Selain itu ada sekitar 60 joki yang biasa mengendalikan laju sapi. Tak mudah sebenarnya mengendalikan laju sapi. Joki hanya berdiri di tangkai bajak sambil memegang ekor sapi agar sapi mau berlari. Bertempur dalam area sawah penuh lumpur. Kadang sapi berlari kearah yang tidak seharusnya. Belum lagi yang harus dikendalikan adalah dua ekor sapi. Cipratan lumpur mengenai seluruh tubuh joki bahkan mengenai mata. Dan itu bisa mengganggu penglihatan para joki.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/akbarisation/pacu-jawi-tanah-datar-perayaan-tradisional-atraksi-wisata_552951bd6ea8341a5b8b4575
Share:
Read More
,

Pacu Jawi Yang Berlumuran Lumpur, Asiiikkkk

SUTAN MINANG - Masyarakat Minangkabau sudah sepantasnya bangga hidup dan lahir di tanah yang punya kekuatan budayanya.

Keanekaragaman masyarakat, wisata, hingga kebiasaan yang telah turun temurun menjadi warisan yang tak bisa ditinggalkan begitu saja.

Banyak hal yang bisa kita lihat di Bumi Minang ini, salah satu yang paling manarik ialah Event Pacu Jawi yabg terdapat di daerah kabupaten Tanah Datar.

Dikutip dari instagram SEKALIJALAN.COM, Pacu Jawi (sapi) di Tanah Datar, Sumatera Barat ini menjadi salah satu spot wisata yang tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke sana.

Pacu jawi ini sangat unik dan menarik sehingga menjadi salah satu agenda pariwisata yang disukai para fotografer dan wisatawan lokal maupun mancanegara.

Di sisi lain, pacu jawi juga mempunyai dampak positif bagi perekonomian dan sosial budaya masyarakat yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.

Berdasarkan kalendar event pariwisata Sumatera Barat 2017, pacu jawi dapat disaksikan di kawasan Nagari Sawah Tangah, kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat pada 6 Mei 2017.

Tak dipungkiri, pacu jawi saat ini tak lagi milik orang Tanah Datar saja, tapi sudah mendunia sehingga diharapkan masyarakat dapat mempertahankan tradisi seperti ini dan tidak terpengaruh dengan budaya asing.

Kepala Dinas Parpora Tanah Datar Edisusanto mengatakan pacu jawi merupakan warisam budaya yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

“Kegiatan pacu jawi ini telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan menjadi sarana hiburan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat,” katanya. “Atraksi pacu jawi ini adalah permainan tradisional masyarakat di empat kecamatan di Tanah Datar yang diaplikasikan sebagai hiburan masyarakat,” katanya.

Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat melalui Kasi Strategi Pemasaran dan Brand Pariwisata, Riza Chandra, menambahkan pacu jawi dilaksanakan untuk mengisi masa setelah panen padi sampai musim bercocok tanam yang prosesinya dilaksanakan secara adat Minangkabau.

Jika kita telaah dari berbagai foto yang beredar, event ini cukup unik dan sayang jika dilewatkan, bagi teman-teman yang ke sumbar.

Pasalnya, kegiatan ini hanya dapat ditemui di Kabupaten Tanah Datar, dan tidak ada di Daerah lain.

Jika punya keinginan datang ke Sumatera Barat, jangan lupa datang ke kabupaten tanah datar pada 6 Mei 2017 ini ya.

Share:
Read More